• Paslon nomor urut 3, Asyik. -DETIK-

Bawaslu akan Panggil Sudrajat-Syaikhu Soal Kaus #2019GantiPresiden

Bawaslu akan Panggil Sudrajat-Syaikhu Soal Kaus #2019GantiPresiden

Tue, 05/15/2018 - 14:35
Posted in:
0 comments

KPU dan Bawaslu akan mengkaji tindakan paslon Sudrajat-Syaikhu yang memamerkan kaus putih dengan tulisan #2019GantiPresiden. KPU dan Bawaslu akan menilai ada-tidaknya pelanggaran.

"Nanti kita akan kaji sama-sama dengan Bawaslu," kata Ketua KPU Jawa Barat Yayat Hidayat di gedung balairung kampus Universitas Indonesia, Depok, Jabar, Senin (14/5/2018).

Yayat menyesalkan peristiwa ini terjadi karena membuat percekcokan. Ia mengatakan, pada Selasa (15/5) akan menggelar rapat dengan Bawaslu terkait insiden ini.

"Kalau situasinya seperti ini, kan mencederai demokrasi. Demokrasi itu kan mirip sesuatu kompetensi yang harus damai. Kalau kemudian ada seperti ini tercorenglah, ya. Mudah-mudahan ke depan (tidak terjadi lagi)," ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Divisi Hukum Bawaslu Jabar Yusuf Kurnia mengatakan Bawaslu akan mencari ada-tidaknya unsur pelanggaran pidana maupun administrasi. Selain itu, jika kasus berproses, akan ditangani dengan cepat.

"Kita akan proses, pengawal pemilu punya kewenangan menilai suatu peristiwa. Kami punya rentang waktu tujuh hari untuk menentukan ini pelanggaran atau tidak. Nanti kita nilai prosesnya," sambungnya.

Nantinya Bawaslu akan memanggil pasangan 'Asyik' tersebut. Pemanggilan itu guna mencari tahu apakah perlu dikenai sanksi atau tidak. Ia mengatakan sebelumnya ada imbauan tidak berkampanye yang menyinggung isu sensitif.

"Pasti, tadi kami ingin ada kesepahaman dari peristiwa ini. Bawaslu-KPU dengan paslon berkomitmen menjaga situasi kondusif Pilgub Jabar. Untuk tidak masuk ke area sensitif, menyangkut Pemilu 2019," kata Yusuf.

Debat Cagub-cawagub Jabar di kampus UI Senin lalu menimbulkan bentrok antar pendukung Asyik (nomor urut 3) dan nomor urut 2 Hasanah. Asyik didukung Gerindra, PKS, dan PAN, sementara Hasanah didukung PDIP.

 

Kaos Ganti Presiden

Kericuhan diawali ketika pasangan calon nomor urut tiga, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, menjanjikan akan mengganti presiden dalam closing statement-nya.

"Kalau kami terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, 2019 kita ganti presiden," kata Sudrajat.

Pernyataan kandidat yang diusung Partai Gerindra, PKS, dan PAN ini pun sontak membuat massa pendukung kandidat nomor dua yang diusung PDIP, Tb Hasanudin-Anton Charliyan berang. Mereka meneriakkan pasangan nomor tiga karena dianggap provokatif dan berbicara di luar konteks debat yang sedang membahas Pilgub Jabar 2018.

Pembawa acara debat yang disiarkan langsung ini pun sempat kewalahan menenangkan massa dari masing-masing pendukung yang mulai tidak tenang. Ketegangan juga terjadi antara salah satu kru TV yang bertugas dengan pendukung Hasanah yang sedang kesal. Beruntung pihak kepolisian sigap melerai pertengkaran ini.

Sayangnya, kondisi Balairung yang kadung panas sulit untuk diredam. Pasangan nomor empat Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang belum kebagian menyampaikan kalimat penutupnya pun terpaksa harus menunggu. Sementara itu, sebagian pendukung Hasanah sudah mulai berkumpul di bibir panggung. Debat kemudian ditutup usai Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi diberi kesempatan untuk menyampaikan kalimat penutupnya.

"Saya sudah enggak semangat sebenarnya, karena istri saya ketakutan. Jadi kang Dedi Mulyadi saja yang menyampaikan closing statement," kata Deddy Mizwar di atas panggung.

Usai panggung debat ditutup bukan berari kericuhan mereda. Pendukung Hasanah ingin Sudrajat meminta maaf atas pernyataannya dan meminta Ketua KPU bertanggung jawab atas kejadian yang dianggap mencoreng Pilkada Jabar ini. Melihat massa sudah sulit terkendali, Tb Hasanudin pun turun tangan.

"Saudara jangan ikuti apa yang diterorkan kepada kita. Jadi pulang bersama saya, jangan merugikan diri sendiri. Jangan dibiasakan main teror, kita bukan teroris. Pulang kalau kalian loyal sama saya, nanti kita selesaikan dengan Ketua KPU dan Bawaslu," kata Hasanudin yang disambut teriakan 'siap komandan' dari para pendukungnya. Mereka pun perlahan pulang meninggalkan Balairung.

Keluar rambu

Menanggapi kejadian ini, Ketua KPU Jawa Barat Yayat Hidayat mengaku menyesal. Dia pun akan menggelar rapat bersama Badan Pengawas Pemilu untuk menyikapi insiden ini. "Besok (hari ini) kita akan menggelar rapat. Nanti kita lihat pelanggarannya akan seperti apa," kata Yayat.

Menurut dia, sejak awal dia pun sudah memberi rambu-rambu kepada masing-masing calon untuk fokus pada tema debat yakni masalah pengelolaan lingkungan di Jawa Barat dan tidak melenceng ke hal-hal di luar kontestasi. Dia pun menyebut insiden ini mencederai demokrasi.

"Demokrasi itu kompetisi yang harus damai, kalau seperti ini tercoreng. Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak terulang lagi," kata dia.

Menyorot rekam jejak

Debat kandidat putaran kedua ini sejak awal memang berlangsung panas. Pasangan yang menjadi sorotan utama adalah nomor urut satu Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dan pasangan nomor urut empat Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Selain karena keduanya bersaing sengit di setiap survei, rekam jejak keempatnya sebagai pemimpin daerah pun jadi sasaran kritik calon lain.

Seperti diketahui Ridwan Kamil lima tahun memimpin Kota Bandung, sementara wakilnya Uu Ruzhanul Ulum memimpin Kabupaten Tasikmalaya dua periode. Di nomor urut empat, Deddy Mizwar menjadi wakil gubernur Jawa Barat satu periode mendampingi Ahmad Heryawan, sementara Dedi Mulyadi dua periode menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Sorotan pada rekam jejak ini di antaraya dimulai ketika Ridwan Kamil menanyakan sejauh mana keberhasilan kepemimpinan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar membenahi Citarum. Sebagaimana janji politiknya, pasangan ini sempat menjanjikan air Citarum bisa langsung diminum pada 2018.

"Tapi sampai sekarang kok belum bisa diminum kang? Sampai harus presiden yang turun tangan," kata Ridwan Kamil.

Menanggapi pertanyaan Ridwan Kamil, Deddy Mizwar menyebut kalau kewenangan badan sungai Citarum memang berada di pemerintah pusat mengingat pembenahannya ada yang bersifat struktural, non struktural, dan kultural. "Ini urusan vertikal, sebagaimana banjir Bandung, enggak bisa diurusi sendiri," kata calon gubernur yang diusung oleh Partai Demokrat dan Golkar ini.

Saat giliran kandidat nomor empat bertanya ke kandidat nomor urut satu, giliran Dedi Mulyadi yang menanyakan kebersihan Kabupaten Tasikmalaya kepada Uu Ruzhanul Ulum. Menurut Dedi, di alun-alun Tasikmalaya, rumputnya tak terurus dan banyak tumpukan sampah. "Hal yang kecil saja dulu," kata Dedi.

Tak mau kalah dengan kompetitornya, Uu pun menjawab pertanyaan Dedi dengan santai. "Yang Kang Dedi maksud itu bukan Alun-alun Kabupaten, itu hanya bundaran. Salah tempat kang, Alun-Alun masih dibangun dan nanti setelah saya punya kewenangan lagi akan saya perintahkan daerah bundaran itu untuk segera dibersihkan. Saat ini kan saya sedang cuti," kata Uu yang disambut gelak tawa dari Dedi Mulyadi.

Meski berlangsung cukup panas, di awal debat situasi masih kondusif. Serangan pertanyaan dari masing-masing kandidat yang dilontarkan kepada kandidat lainnya masih diakhiri dengan berjabat tangan.

Dua sesi Pilgub Jabar 2018

Debat ini sendiri dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama masing-masing kandidat mendapat amplop berisi pertanyaan yang disusun oleh para panelis. Nantinya jawaban yang mereka sampaikan akan ditanggapi oleh kandidat lain. Sementara sesi kedua adalah sesi interaktif dimana para kandidat bisa bertanya dan menanggapi program kandidat lainnya.

Debat yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB ini bertema 'Menjawab Tantangan Pembangunan Berkelanjutan Untuk Rakyat Jawa Barat'. Ada empat materi yang jadi sorotan utama antara lain Lingkungan Hidup, Ketahanan Energi, Keberlanjutan SDA dan Ketahanan Pangan. Materi debat dirancang oleh tim panelis yang berisi 18 orang pakar dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat. Format debat sengaja dibuat lebih ringkas agar para calon bisa memberikan penjelasan secara detail dan mendalam terhadap topik yang diperdebatkan.***

<>DETIk.com/Pikiran-rakyat.com/01