• Layanan pegadaian. -IST-

BUMN Lawas: Model Bisnis Baru dan Transformasi atau Mati...

BUMN Lawas: Model Bisnis Baru dan Transformasi atau Mati...

Wed, 05/16/2018 - 18:09
Posted in:
0 comments

Perusahaan-perusahaan yang telah berumur ratusan tahun tetap eksis di zaman now. Banyak cara dilakukan untuk bertahan dan tetap eksis di era milenial sekarang ini. Melakukan bisnis baru atau melakukan transformasi -- itulah yang banyak dilakukan. Sebab, tanpa itu, pelan tapi pasti pasti akan menuju ke lorong kebangkrutan.

Apa yang pertama kali muncul di pikiran Anda jika mendengar kata Pegadaian?

Bagi sebagian orang, itu adalah: emas.

Entah mengapa Pegadaian yang fungsi utamanya untuk menyediakan dana cepat kepada orang yang membutuhkan dana sekarang ini lebih dikenal menjadi tempat jual-beli emas.

Namun, Direktur Utama Pegadaian Sunarso, tak ingin jika perusahaan yang sudah beroperasi selama 117 tahun itu justru dianggap hanya sebatas tempat jual-beli emas.

"Bisnis kita terdiri dari pembiayaan berbasis gadai, pembiayaan non gadai, dan bisnis jual beli emas dan juga jasa-jasa lainnya yang menghasilkan pendapatan," jelas Sunarso

Bagaimanapun, stok emas di Pegadaian sangat besar karena 95% dari transaksi berbasis gadai di sana dijamin oleh emas, dengan total transaksi berbasis gadai di Pegadaian tahun lalu mencapai Rp32 trilyun.

Total outstanding pembiayaan Pegadaian per Desember 2017 mencapai Rp36.9 triliun, namun angka yang besar itu terancam berkurang dengan adanya jasa pembiayaan lainnya serta munculnya aplikasi pembiayaan seperti peer-to-peer lending yang mulai marak digunakan.

Itulah mengapa transformasi di tubuh Pegadaian tak terelakkan lagi.

"Kalau digital, peer-to-peer lending, crowdfunding, itu sebenarnya ada vendornya, ada pabriknya. Tapi pola pikir yang tidak ada pabriknya, itu yang harus secara kolektif kita bangun," kata Dirut Pegadaian, Sunarso, kepada BBC Indonesia.

Transformasi budaya dan pola pikir juga sedang dihadapi PT Pos Indonesia, jadi bukan sekedar mengubah bisnis model layanan pos yang tak lagi relevan di era digital sekarang ini.

Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono, memaparkan bahwa pos awalnya dirancang sebagai civil servant (pelayan warga) yang melayani orang yang datang ke kantor Pos.

Tetapi bisnis kurir yang saat ini berkembang bukanlah "tipologi civil servant sehingga dari sisi cara dalam berhadapan dengan customer, sangat berbeda."

"Bisa dibayangkan bahwa PT Pos yang umurnya 272 tahun, dengan usia pelanggan di atas 45 tahun itu 67%. Artinya ketika kita melakukan perubahan budaya, membutuhkan kesigapan dari pasukan Pos untuk un-learn dan re-learn sesuatu yang didapat," jelas Gilarsi.

"Ini yang membutuhkan waktu yang rada panjang."

Di saat bersamaan, Gilarsi juga memutuskan untuk segera melakukan transformasi digital dengan mengeluarkan layanan digiro.in, atau giro digital untuk pembayaran, transfer atau pengiriman uang hingga penyaluran pensiun TNI dan PNS, yang selama ini sudah dilakukan PT Pos.

"Kalau kita bicara financial inclusion, Indonesia baru saja bergerak dari 36% menjadi 50% kurang lebih sekarang. 50% masih berbasis tunai. Dan mereka sebenarnya banyak sekali yang sangat nyaman ketika datang ke kantor pos, mereka tahu kantor pos itu bisa mengelola uang," kata Gilarsi.

"Ketika ini semua bisa disederhanakan, dengan giro yang kita miliki itu sudah menjadi digital, di mana platformnya tidak hanya berbasis di loket, tapi juga di mobile. Artinya ini sangat memudahkan."

Selain transformasi, yang juga penting dilakukan kedua BUMN lawas itu adalah efisiensi dan optimalisasi aset terbesar mereka: properti.

"Gedung ini hampir empat hektar di pusat distrik keuangan. Namun kita tidak menggunakannya untuk tujuan yang lebih besar. Mungkin saatnya kita berkolaborasi dengan institusi-institusi yang bisa me-leverage apa pun yang ada di sini tanpa kita harus kehilangan aset," kata Gilarsi.

Kalau PT Pos menyewakan propertinya, Pegadaian justru membuat hotel dengan memanfaatkan kantor dan gudang-gudang Pegadaian yang ada di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

"Atas dasar keinginan untuk mengoptimalkan aset-aset yang nganggur ini, toh bisa dibangun. Akhirnya hari ini kita memiliki sembilan hotel yang kita sebut Hotel Pesonna," kata Sunarso.

Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri tantangan terbesar kedua BUMN adalah mengubah citra mereka yang identik dengan tua, besar, dan lambat.

Dan ini yang dilakukan PT Pegadaian, antara lain dengan membuat outlet di mal dan warung kopi di gedung milik Pegadaian untuk menarik minat generasi milenial.

"Kita buka The Gade Cafe dan alhamdulilah baru buka sebulan, hari ini kursinya penuh. Itu sudah cukup mengangkat citra Pegadaian, bahwa Pegadaian bukan hanya untuk perempuan tua, tapi untuk perempuan atau laki untuk semua umur. Enam puluh delapan persen nasabah Pegadaian ternyata umurnya di bawah 45 tahun. Milenial!" tegas Sunarso.

<>BBC/01