• Otomatisasi di pabrik mobil. -IST-
  • Robot tukang servis elektronik. -IST-
  • Robot yang gantikan penjahit. -IST-

Disruptive Mindset & Ancaman Revolusi Industri 4.0

Disruptive Mindset & Ancaman Revolusi Industri 4.0

Fri, 05/04/2018 - 18:54
Posted in:
0 comments

KEHADIRAN revolusi industri 4.0 tak terhindarkan lagi. Persiapan untuk menghadapi perubahan dunia itu terjadi di seantero jagad. Mereka sedang bertaruh, bisakah hidup di zaman baru, atau kalah dan tersingkir.

Hadirnya revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada cyber-physical system telah dan tentu akan terus mengubah peri kehidupan kita. Ancaman artificial intelligence, internet of things (IoT), 3D printing, robot, dan mesin-mesin cerdas secara besar-besaran sudah di depan mata bakal dan akan terus menggerus tenaga kerja manusia.

Kecepatan dan ketepatan menjadi kunci dalam menghadapi gelombang perubahan tersebut, juga kemampuan kita dalam beradaptasi dan bertindak gesit. Oleh karena itu, segala sektor harus segera berbenah untuk menyongsong datangnya revolusi 4.0 itu dengan baik.

Sejalan dengan namanya, revolusi industri, segala aspek terkait industri akan mengalami perubahan yang drastis. Kalau selama ini orang berpikir semua pasti akan aman-aman saja, namun secara tak disadari bisnis yang semula dirasa aman-aman itu sebenarnya sudah tergerogoti oleh para pesaing kita yang tak tampak. Mereka yang mengendalikan usaha dari mesin-mesin pintar. Bukan dari perkantoran modern, tapi bisa dari jadi Cuma dari rumah, atau bahkan saat jalan-jalan di destinasi wisata di benua lain.

Bila sebagian dari kita sering berpikir dengan usaha logistik model lama bisa dengan mudah mendapatkan fee yang lumayan menggiurkan, suatu saat klien akan berpindah pada layanan berbasis aplikasi yang tarifnya sangat murah. Tanpa ada premanisme lagi.

Sungguh menggiurkan? Ya, itulah yang akan terus terjadi di mana-mana. Di sektor industri yang menjadi salah satu bahasan pokok dalam revolusi itu pun diyakini banyak ahli akan terjadi hal serupa.

Ketika awal revolusi itu berkibar di Jerman, misalnya, robot dianggap bukan pesaing serius. Mereka tak bakal bisa mengerjakan sesuatu yang susah – yang biasanya hanya dikerjakan manusia dengan keahlian khusus. Namun, dalam waktu singkat, di luar dugaan, berbekal teknologi AI dan VR, robot-robot itu semakin pintar dan merebut pekerjaan-pekerjaan yang semula didominasi manusia. Semakin lama, otomatisasi pabrik-pabrik tak terbendung, apalagi dari sistem ini para pemodal mendapat keuntungan yang berlipat.

Kawasan-kawasan industri di Indonesia yang selama ini lebih banyak dikelola dengan pola-pola lama sangat tergopoh-gopoh dengan perubahan ini. Jangankan revolusi 4.0, banyak juga yang tampaknya belum mampu mengantisipasi di level sebelumnya, 3.0.

Kementerian Perindustrian tampaknya cukup tanggap dan segera mendesain ulang zona-zona industri yang ada di negeri ini.

Setiap pengelola kawasan harus tanggap akan perubahan trend yang berkembang akhir-akhir ini. Ajakan untuk mengubah mindset secara terus-menerus didengungkan. Tujuannya tentu agar semua segera mengubah pola pikir lama yang jelas tidak selaras dengan perubahan zaman yang begitu cepat sekarang ini.

Tapi, sejalan dengan anjuran ahli pemasaran Prof Rhenald Khasali dalam bukunya Disruption (Rumah Perubahan, Gramedia, 2017), perubahan mindset saja tidak cukup, tapi perlu apa yang disebut manajemen baru dan disruptive mindset.

<>MARYOTO, jurnalis