• BRI. -BP1-

Hingga September 2018, Utang BUMN Capai Rp 5.271 Triliun

Hingga September 2018, Utang BUMN Capai Rp 5.271 Triliun

Wed, 12/05/2018 - 05:33
Posted in:
0 comments

Utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai lebih dari Rp 5.271 triliun per September 2018. Hal itu disampaikan Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro berdasarkan data unaudited (belum diaudit).

Utang tersebut meningkat dari 2016 yang jumlahnya Rp 2.263 triliun, dan 2017 yang jumlahnya Rp 4.830 triliun. Artinya dari 2017 ke September 2018, utang BUMN meningkat Rp 441 triliun.

"Utang awalnya Rp 2.263 triliun, menjadi Rp 4.830 triliun. Dan kemudian kuartal III, akhir September 2018 utang BUMN meningkat ke level Rp 5.271 triliun," katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (3/12/2018).

Dilihat dari komposisinya, utang terbesar disumbang oleh BUMN di sektor keuangan dengan nilai Rp 3.311 triliun, dan sektor non keuangan Rp 1.960 triliun.

"Kalau dibagi sektor keuangan dan non keuangan, utang Rp 5.271 triliun didominasi sektor keuangan Rp 3.300 triliun, dengan komponen terbesar dana pihak ketiga (DPK) mencapai 74%," terangnya.

Di samping utang yang terus meningkat, aset BUMN juga mengalami pertumbuhan dari 2016 hingga September 2018. Aset pada 2016 adalah Rp 6.524 triliun, 2017 adalah Rp 7.210 triliun, dan September 2018 adalah Rp 7.718 triliun.

"Neraca BUMN, pertumbuhan aset 3 tahun terakhir Rp 6.524 triliun, meningkat menjadi Rp 7.210 triliun, naik lagi menjadi Rp 7.718 triliun," tambahnya.

Saat memberikan penjelasan, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengungkap daftar 10 BUMN dengan utang terbesar.

"Dari top 10 ini dapat disimpulkan bahwa kesanggupan BUMN membayar utang aman," ujarnya seperti dilansir dari Kompas.com, Senin (3/12/2018).

Aloysius menyebutkan, total utang seluruh BUMN mencapai Rp 5.271 triliun hingga kuartal III 2018. Ada pun asetnya mencapai Rp 7.718 triliun.

Sementara itu, ekuitas seluruh BUMN Rp 2.414 triliun. Ada pun laba bersih hingga kuartal III 2018 hanya Rp 79 triliun.

Di BUMN sektor keuangan, utangnya mencapai Rp 3.311 triliun di mana 74 persennya merupakan simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Sementara itu, utang BUMN sektor non keuangan mencapai Rp 1.960 triliun. Di mana 26 persennya utang BUMN sektor listrik dan 27 persennya BUMN sektor migas.

 Berikut daftar 10 BUMN dengan utang terbesar:

1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

    Utang: Rp 1.008 triliun

    Aset: Rp 1.183 triliun

    Ekuitas: Rp 175 triliun

    Laba bersih: Rp 24 triliun

2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

    Utang: Rp 997 triliun

    Aset: Rp 1.174 triliun

    Ekuitas: Rp 176 triliun

    Laba bersih: Rp 19 triliun

3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

    Utang: Rp 660 triliun

    Aset: Rp 764 triliun

    Ekuitas: Rp 104 triliun

    Laba bersih: Rp 11 triliun

4. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)

    Utang: Rp 543 triliun

    Aset: Rp 1.386 triliun

    Ekuitas: Rp 843 triliun

    Laba bersih: Rugi Rp 18 triliun

5. PT Pertamina (Persero)

    Utang: Rp 522 triliun

    Aset: Rp 923 triliun

    Ekuitas: Rp 400 triliun

    Laba bersih: Rp 5 triliun

6. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

    Utang: Rp 249 triliun

    Aset: Rp 272 triliun

    Ekuitas: Rp 23 triliun

    Laba bersih: Rp 2 triliun

7. PT Taspen (Persero)

    Utang: Rp 222 triliun

    Aset: Rp 231 triliun

    Ekuitas: Rp 9 triliun

    Laba bersih: Rp 0,1 triliun

8. PT Waskita Karya (Persero) Tbk

    Utang: Rp 102 triliun

    Aset: Rp 129 triliun

    Ekuitas: Rp 27 triliun

    Laba bersih: Rp 4 triliun

9. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

    Utang: Rp 99 triliun

    Aset: Rp 205 triliun

    Ekuitas: Rp 91 triliun

    Laba bersih: Rp 14 triliun

10. PT Pupuk Indonesia (Persero)

    Utang: Rp 76 triliun

    Aset: Rp 140 triliun

    Ekuitas: Rp 64 triliun

    Laba bersih: Rp 2 triliun

 

Peringkat idAAA

Pefindo menegaskan peringkat utang BRI pada idAAA

Lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merilis peringkat obligasi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada Senin (26/11).

Pefindo menegaskan peringkat BRI pada idAAA untuk Obligasi Berkelanjutan I tahun 2016 seri B.

Berdasarkan rilis dari situs resmi milik Pefindo, obligasi bank berkode saham BBRI akan jatuh tempo pada 4 Februari 2019 dengan nominal Rp 1,02 triliun.

Kesiapan BRI untuk membayar kembali obligasi jatuh tempo didukung oleh kas internal yang mencapai Rp 21,1 triliun pada akhir September 2018.

Peringkat idAAA adalah peringkat tertinggi yang diberikan oleh Pefindo. Kemampuan obligor untuk memenuhi keuangan jangka panjangnya memberi komitmen pada keamanan utang.

Berdasarkan rating Pefindo, BRI dinilai lebih unggul terhadap obligor Indonesia lainnya.

Bank BRI adalah bank komersial milik negara yang fokus pada pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pada akhir September 2018, 56,8% dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan 43,2 persen oleh publik.

//DETIK/TRIBUN/01