• Jalan tol. -IST-

Pembangunan Infrastruktur Hanya Untungkan BUMN, Swasta Cuma Penonton

Pembangunan Infrastruktur Hanya Untungkan BUMN, Swasta Cuma Penonton

Fri, 05/11/2018 - 17:48
Posted in:
0 comments

Pembangunan infrastruktur yang dikebut pemerintah tak dirasakan dampaknya oleh perusahaan swasta. Sebab, pembangunan infrastruktur utamanya proyek strategis nasional (PSN) dikuasai oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Pembangunan infrastruktur untuk siapa, kepada perusahaan-perusahaan besar termasuk BUMN-BUMN. Kita panggil itu program PSN dikuasai oleh BUMN," kata Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis dalam Forum Dialog Hipmi di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Oleh karenanya, pembangunan yang dikebut pemerintah ternyata cukup dikeluhkan swasta. Dia bilang, ada perusahaan swasta mendapat bagian dari proyek tersebut namun hanya menjadi sub kontraktor (subkon) dengan pembayaran kontrak yang terkendala.

"Para pengusaha-pengusaha kita mengeluh semua, memang subkon-subkon tapi pembayarannya susah," ujarnya.

"Sekarang dikuasai BUMN, sekarang keuntungan terbesarnya lebih banyak BUMN," sambungnya.

Dia juga menyinggung soal infrastruktur tak memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi. Buktinya, kata dia, pertumbuhan ekonomi nasional tidak melesat.

"Tapi tiga tahun pertumbuhan ekonomi kita nggak naik-naik. Kalau saya dibilang pertumbuhan ekonomi untuk rakyat, apa betul untuk rakyat," tutupnya

Menurut Francis sapaan akrabnya, banyak sekali proyek-Proyek Strategis Nasional (PSN) yang justru diserahkan kepada kontraktor plat merah. Padahal nilai proyek tersebut cukup tinggi.

Memang ada sebagian kontraktor swasta yang ikut serta dalam proyek tersebut. Namun, menurutnya, posisi dari perusahaan tersebut hanya sebagai Sub Konstruksi yang mana porsi dalam pengerjaannya sangat kecil sekali.

"Itu PSN infrastruktur banyak yang dikuasai oleh BUMN. Para pengusaha di daerah menurun. Memang ada subkontraktor, tapi pembayarannya susah. Jadi infrastruktur dibangun. Anggaran terbatas sekarang sudah dikuasai BUMN, anggaran kecil-kecil lagi," jelasnya.

Meski begitu lanjut Francis, pembangunan infrastruktur yang dilakukan Presiden Jokowi patut diapresiasi. Karena sejumlah infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah sudah mulai bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Kita harus mengakui, apalagi pak Menteri PUPR (Basuki Hadimuldjono) kita diangkat menjadi bapak infrastruktur. Jadi kita berikan apresiasi untuk rakyat," jelasnya.

Francis juga menyebut jika saat ini, efek kepada pertumbuhan ekonomi dari pembangunan infrastruktur belum terasa. Hanya saja dirinya menilai hal wajar karena pembangunan infrastruktur butuh waktu yang lama agar bisa terasa pada pertumbuhan ekonomi.

"Kalau lihat pembangunan infrastruktur di daerah yang banyak dibangun infrastruktur itu juga stagnan juga, betul untuk rakyat, tetapi manfaat dari pada yang dibangun itu beri dampak ekonomi atau tidak. itu saya kira hal yang ingin saya sampaikan," jelasnya.

Keuntungan Malah Merosot

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritimn Rizal Ramli menyoroti masalah pengelolaan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengalami kerugian dan kinerja turun.

Padahal, selama ini banyak BUMN yang mendapatkan jatah untuk menggarap proyek-proyek pembangunan infrastruktur. Rizal mengatakan, langkah pemerintah dalam menggenjot pembangunan infrastruktur harus diapresiasi. Namun ada masalah-masalah yang juga harus dibenani dari proses pembangunan tersebut.

‎"Dalam bidang infrastruktur, kita harus fair kasih pujian ke pemerintah. Tapi bahwa dalam pelaksanaannya ada masalah. Pertama, cost-nya mahal. Kedua, di kasih kerjaannya sama BUMN," ‎ ujar dia dalam Forum Dialog HIPMI di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Namun sayangnya, lanjut Rizal Ramli, meski sudah mendapatkan proyek, namun masih banyak BUMN karya yang keuntungannya justru merosot.

"Di BUMN sudah pasti dapat kerjaan, pembiayaan dari negara, utangnya makin banyak, kreativitas BUMN-nya malah makin menurun. Jadi harusnya kerjaan ada, volume kerjaan naik, keuntungan naik.  Ini malah delosor.‎ Terutama itu yang dipimpin oleh preskom (presiden komisaris) Fajroel Rachman," kata dia.

<>DETIK/OKEZONE/LIPUTAN6.com/01