Kemacetan Abadi di Jalan Raya Cakung

Redaksi Yth, -- Tiap hari saya bersama rekan sekerja selalu melintasi Jalan Raya Cakung, tepatnya jalan yang menghubungkan antara Taman Modern sampai Terminal Pulogadung. Di sepanjang jalan tersebut hampir setiap hari selalu kemacetan.

Kemacetan bukan saja pada pagi hari, tapi juga siang, sore, bahkan malam hari. Bertahun-tahun melintasi ruas jalan itu saya tahu persis salah satu penyebabnya: ba-nyaknya pak ogah alias pengatur jalan amatir yang banyak mencari nafkah di setiap persimpangan jalan tersebut.

Aksi para pak ogah ini diperparah oleh kedisiplinan para pengguna jalan yang se-ring main serobot jalur, bahkan melawan arus. Lengkaplah, tiap hari kemacetan di ruas jalan itu bak benang-kusut yang kadang polisi saja tampak tak berdaya mengatasinya.

Kemacetan makin parah karena kecenderungan mereka hanya mementingkan para pengguna jalan yang mau menyeberang dan membayar saja, sehingga merugikan pengguna jalan lainnya yang jalan lurus yang berarti tak perlu merogoh kocek recehan untuk mereka.

Padahal, para pengguna jalan yang mau putar arah atau menyeberang di jalur itu sebenarnya jumlahnya relatif kecil dibanding yang berjalan lurus. Tapi, karena prioritas pada para penyeberang yang diharapkan memberi uang, terjadilah kemacetan di jalur lurusnya.

Pemandangan seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi, bila aparat Pemkot Jakarta Timur bersama kepolisian setempat bersikap tegas menindak para polisi cepek ini. Pelanggaran mereka sudah jelas, namun selama ini terkesan dibiarkan. Akhirnya, masyarakat pengguna jalan jadi terganggu, karena tiap hari harus melintasi jalur dengan kerawanan kemacetan yang tinggi itu.

Percuma saja infrastruktur jalannya sudah bagus kalau penegakan aturannya memble. Sia-sialah keinginan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama untuk menjadikan Jakarta yang bebas macet, kalau ternyata  tidak diikuti oleh jajaran di bawahnya.

 

Hendra Permana Setyaji

Pulogebang, Jakarta Timur

No comment

Leave a Response