Ketika Produk Jepang Terancam Tinggal Jadi Pecundang…

Sejumlah politisi di sejumlah media, termasuk media sosial langsung menuding – semua karena pemerintah Jokowi-JK terlalu memanjakan investor dari China dan mulai mengabaikan peran Jepang dalam perekonomian Indonesia, di masa lalu.

Agaknya terlalu berlebihan bila tersingkirnya sejumlah bisnis Jepang di Indonesia akhir-akhir ini karena kecenderungan pemerintahan baru yang lebih memanjakan China. Justru, dalam berbagai hal, boleh jadi bisnis Jepang di Indonesia, bahkan dunia mungkin sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan baru yang begitu cepat bergulir.

Kasus kereta cepat Jakarta-Bandung yang kemudian dimenangi China, boleh jadi pelajaran penting pebisnis Jepang di Indonesia yang masih menerapkan paradigma lama. Sayang, di luar konteks bisnis, kemudian publik dibuat gaduh oleh politisasi proyek ini.

Terhambatnya setiap kepentingan Jepang di Indonesia selama ini memang selalu jadi bahan perdebatan politik kalangan tertentu. Di masa lalu, ketika pabrik Sony di Cikarang ditutup pun, jadi polemic berkepanjangan tentang iklim investasi di negeri ini.

Padahal, sejumlah raksasa industri lain juga pernah hengkang dari Indonesia. Dan tidak sedikit yang tanpa gejolak. Sebab, tidak sedikit yang hijrah dari Indonesia karena faktor upah buruh. Jepang dating ke sini kan sebagai pedagang, yang dikejar tentulah keuntungan. Dengan ongkos buruh yang relatif murah, mereka bebas memilih mau pindah ke negara yang biaya tenaga kerjanya relatif murah.

Syukur-syukur bila ditundang berbagai fasilitas lain yang lebih baik. Bagi pebisnis, perpindahan area bisnis itu sebenarnya sesuatu yang biasa. Namun, menjadi tak biasa ketika banyak pihak menafsirkannya lain – kalau tidak mau dibilang berlebihan. Ketika Yahoo ‘terbang’ dari Indonesia ke Singapura, misalnya, toh gaungnya tak begitu terdengar.

Padahal, meskipun tidak padat karya, secara aset, Yahoo sangat kuat dibanding Panasonic atau Toshiba. Lebih dari itu, Yahoo merupakan raksasa bisnis teknologi informasi yang menguasai dunia. Secara bisnis, bila usaha di sebuah negara tak lagi menguntungkan, atau singkatnya, malah merugi dan jadi beban bisnis secara keseluruhan ya lebih baik ditutup. Ini juga berlaku ketika baru-baru ini kantor pusat Yahoo menutup sejumlah kantor cabangnya di sejumlah kota di dunia, termasuk salah satunya di Amerika Serikat.

Masih dalam ingatan kita, ketika beberapa waktu lalu pabrikan mobil Ford menutup aktivitasnya di Indonesia. Penutupan ini semata-mata karena dari sisi bisnis kurang menguntungkan. Produsen otomotif dari negeri Paman Sam ini tak kuat lagi melawan raksasa-raksasa baru otomotif dari Asia, seperti Jepang dan Korea yang mampu menguasai pasar di Indonesia. Selain ‘cabut’ dari Indonesia, Ford juga menutup usahanya di sejumlah negara di dunia, termasuk di antaranya di Jepang. Ke depan tentu akan banyak perubahan terjadi di belahan bumi ini. Di era digital sekarang ini, tentu akan lebih banyak terjadi, sesuatu yang di masa lalu tidak mungkin terjadi, akan terjadi.

Amerika Serikat yang kini dengan pertumbuhan sangat kecil, begitu pun dengan negara-negara Eropa yang ekonominya kurang menggembirakan terus mencermati pertumbuhan di Asia, khususnya China yang luar biasa besar. Di tengah pelemahan ekonomi dunia 2015 lalu saja, China masih mampu mempertahankan angka pertumbuhan hampir menyentuh angka 7 persen.

Padahal, di Jepang sendiri angka pertumbuhannya sangat kecil. Kebangkitan di negara-negara Asia, khususnya China, India, dan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara kini tengah mencemaskan Amerika Serikat dan Eropa. Membanjirnya produk-produk China yang kemudian diikuti dengan investasi di berbagai bidang dari negeri tirai bambu itu merupakan ancaman serius bagi dunia.

Kasus tergesernya produk-produk Jepang seperti Panasonic dan Toshiba, atau Sony yang lebih awal sudah keluar dari Indonesia tak bisa dilepaskan dari pergeseran konsumen di Indonesia yang mulai bergeser dari produk-produk mahal, ke arah produk yang lebih murah, tapi dengan kualitas yang tak jauh beda dengan produk ternama dari Jepang.

Di tengah menguatnya dollar terhadap rupiah, bukan saja barang-barang elektronik saja yang akan terus tertekan, tapi juga otomotif Jepang di Indonesia. Ini sudah mulai terjadi, menyusul adanya PHK di sejumlah perusahaan otomotif asal Jepang. Di Jepang sendiri yang dulu dikenal sebagai negeri innovator, kini mulai terpuruk yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi negeri itu yang terus mengalami pelambatan. Raksasa-raksasa elektronik Jepang seperti Sony, Panasonic, Sharp, Sanyo, dan juga Toshiba sedang menuju kehancuran.

Ada kegetiran yang mencekam di balik gedung-gedung raksasa yang menjulang di sana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih. Tahun lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian triliunan rupiah. Harga-harga saham mereka rontok berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut menyusul produk televisinya yang sudah mati lebih dulu.

Serbuan produk Korea Selatan, seperti Samsung dan LG begitu telak menghantam produk Jepang. Sampung dan LG bukan saja menggerus produk elektronik, tapi juga gadget, dan perangkat-perangkat canggih lain. Sony yang dulu dipandang paling perkasa, kini jadi lunglai seperti robot yang bodoh dan tolol ketika menghadapi Apple. Pertanyaannya sekarang, kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu kini seperti pecundang? Menurut pengamat mengenai ekonomi Jepang, setidaknya ada tiga penyebab yang sangat mendasar yang patut kita ambil sebagai perenungan. Pertama, factor Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci.

Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengagungkan harmoni dan konsensus. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.

Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi). Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati: dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”.

Kedua, faktor Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan. Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.

Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia: di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman. Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati. Ketiga factor Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun. Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua. Di sini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat.

Siapa yang tidak mau berubah dan terlalu asyik dengan dirinya sendiri tanpa memikirkan APA YG DIINGINKAN KONSUMEN, ya bakal ditinggalkan. Inilah yang dialami pabrik Panasonic dan Toshiba, dan mungkin perusahaan Jepang lainnya di Indonesia, dan di belahan dunia lain. Realita di pasar gadget kita sebagai contoh. Produk Xiaomi (Mi) asal China yang canggih, dan secara teknologi menyamai, bahkan melebihi iPhone-nya Apple menjual produknya di Indonesia dengan harga yang hanya 20% bahkan kurang dari itu. Gila!

Tapi, itulah yang jadi kelebihan Xiaomi mendesak pasar produk lain yang sudah mapan dan lama bercokol di atas bumi. Begitu pun Lenovo yang telah menjadi raksasa setelah mengakuisi raksasa IBM terus membombardir pasar dengan gadget-gadget canggih dan murahnya, terus memaksa produk-produk asal Amerika dan juga Jepang harus tiarap, lalu angkat kaki dari sejumlah penjuru muka bumi. Sony yang menjadi salah satu produk kebanggaan negeri samurai itu boleh saja terus berusaha untuk bangkit dengan produk-produk barunya, tapi produk-produknya terus kalah saing dengan pabrikan asal China dan Korea. Fakta ini tentu merupakan pelajaran buat kita semua para pengendali industry di Indonesia. Fenomena ini mengingatkan industry kita yang tidak boleh terus-menerus asyik dengan paradigma lama, karena arus liar perubahan terus menggerogoti kemapanan. Kita harus selalu pro aktif meneliti semua perubahan untuk memetakan letak masalah dan di mana peluang bisa digali. Industri sebagai sebuah karya inovasi merupakan bisnis yang akan terus berubah mengikuti gelagat para konsumen. MAY/DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER

Admin

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut at vulputate sem, at efficitur nibh. Aliquam sit amet nulla vel ipsum ornare commodo a a purus

No comment

Leave a Response