Tahun 2018 Properti Diyakini Bakal “Booming” Lagi

MASIH dalam level perlahan, banyak pihak menyatakan bisnis properti bakal beranjak pulih mulai tahun ini. Namun, momen booming pada sektor ini diyakini terjadi pada 2018 mendatang. Salah satu faktor pendorong, adalah makin tingginya pergerakan penduduk, termasuk Warga Negara Asing (WNA).

Pakar Properti Nasional Matius Jusuf memaparkan, terakhir kali produk properti mengalami booming penjualan adalah pada 2012 lalu. Memasuki semester kedua 2013, bisnis ini disebutnya mulai mengalami krisis.

Dia menjelaskan, kondisi itu dimulai dengan dampak kurs dolar yang beranjak naik, melewati Rp 10 ribu. Diteruskan dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate), dari semula 5,75 persen bertahap menjadi 7,75 persen pada 2015 lalu.

“Musuh dari bisnis properti adalah suku bunga bank. Setiap kenaikan BI rate sebesar 1 persen, maka penjualan turun 5 persen. Dari kenaikan 2 persen (5,75 persen menjadi 7,75 persen), maka perlambatan penjualan adalah 10 persen (2 x 5 persen),” jelasnya saat ditemui di Samarinda, beberapa waktu lalu.

Penghambat lainnya, kata Matius, juga masih dari sisi kebijakan. Yakni pemberlakuan besaran loan to value (LTV) ratio, atau perbandingan nilai kredit terhadap harga produk properti.

“Pada 2013 itu juga ada isu pemilu. Sehingga membuat properti pada semester kedua tahun itu mulai terasa sekali terjadi perlambatan. Seiring waktu berjalan, dilihat pada gelombang tiap tahun, selalu ada gejolak kurun waktu tiga tahun. Ada up and down,”imbuhnya.

Dia menyebut, tahun ini adalah mula perbaikan dari bisnis properti, karena sudah memasuki siklus tiga tahun yang dimaksud. Juga, karena kini memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Ditambah lagi BI rate sudah turun, dari 7,75 persen menjadi 6,75 persen.

“Maka tentu penjualan akan naik kembali. Ditambah lagi, WNA kini sudah boleh membeli properti tidak hanya segmen high price saja. Tapi juga bisa low price, dalam kurun waktu 80 tahun. Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar juga mengalami perbaikan secara perlahan. Dari sekira Rp 15 ribu, hingga mencapai paling tidak sekira Rp 12.900. Ini kabar gembira,” paparnya.

Sebab, tambahnya, lebih dari 100 negara WNA yang juga bisa masuk ke Indonesia dengan bebas visa, akan membuat properti jelas tumbuh kembali. Karena tak mungkin WNA hidup di negeri ini tanpa memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri untuk menggunakan jasa properti, lebih-lebih lagi untuk membeli, atau turut memperjualbelikan.

Dia menegaskan, properti pasti membawa 138 jenis sektor riil. Termasuk di dalamnya perdagangan dan industri, yang berpotensi menggerakkan roda perekonomian.

“Ini adalah multiplier effect yang akan mendorong semuanya, sektor riil tentu kembali hidup. Semester kedua tahun ini pasti bangkit kembali. Dan, booming akan terjadi pada 2018. Indonesia pun pada 2030 diprediksi akan menjadi tujuh besar negara di dunia, menurut McKinsey,” terang Matius.

Terkait kinerja pemerintah, Matius berpandangan positif. Dia menganggap, bila terus konsisten terhadap visi pembangunan, tidak ada kejemuan ekonomi ke depan

 “Pemerintah kini sedang giat membangun infrastruktur, menyambungkan semua daerah dengan mudah. Menunjang keperluan hidup. Ke depan, hal ini pasti berdampak pada berbagai sektor ekonomi,” pungkasnya. _KALTIMPOST

No comment

Leave a Response