• Layanan publik di Kelurahan Sumurbatu, Bantargebang. -BEKASIPOS-

Korban Pelaku Penipuan Tenaga Kontrak Pemkot Bekasi Kebanyakan Takut Melapor

Korban Pelaku Penipuan Tenaga Kontrak Pemkot Bekasi Kebanyakan Takut Melapor

Sun, 01/09/2022 - 01:19
Posted in:
0 comments

Percalonan TKK di Pemkot Bekasi termasuk salah satu ‘bisnis’ yang diduga dikendalikan oknum-oknum berpengaruh di Pemkot. Ditangkapnya seorang calo TKK dengan belasan korban oleh Kepolisan Metro Bekasi Kota, akhir pekan ini diharapkan jadi awal bagi terungkapnya mafia TKK di Pemkot Bekasi.

Para calo biasanya gentayangan di mana-mana, bahkan masuk ke lingkungan kelurahan dan RW. Mereka menyebar jaringan lewat relasi dengan tujuan akhir mendapatkan uang.

Dari sekitar 6.000an TKK yang saat ini dipekerjakan di OPD (organisasi perangkat daerah), kebanyakan tidak sesuai kompetensi. Mereka bisa masuk lewat kompetensi yang tidak jelas. Terlebih karena persyaratan yang diminta biasanya asal masih masuk usia produktif (20-30 tahun) dan mau mengeluarkan sejumlah uang yang diminta sebagai syarat.

Untuk meyakinkan korban, calo TKK ini selalu memberikan bukti berupa kuitansi. Karena, ada semacam keseriusan ini, tidak sedikit membuat para calon korban terjerat dan masuk dalam perangkap tawaran tersebut.

Seorang ibu yang puterinya sudah menjadi korban calo TKK di Pemkot Bekasi di Kelurahan Pejuang misalnya memilih menunggu uang dikembalikan saja daripada melapor ke polisi dan uang tidak kembali.

“Saya sudah tanyakan ke penyalurnya semalam, katanya mau segera mengembalikan uang yang sudah diterima,” kata seorang ibu di Perumahan Taman Harapan Baru, Kelurahan Pejuang, Minggu (9/1/2022) pagi pasrah.

Sudah bertahun-tahun uang ditagih dan janjinya akan dikembalikan, namun dengan adanya penangkapan calo TKK ini ia berharap akan membuat pelaku akan berpikir ulang dilapor polisi dan jadi pesakitan di pengadilan.

Korban lain yang dijanjikan bisa bekerja sebagai tenaga administrasi RSUD Kota Bekasi memilih agar uang yang sudah disetor dikembalikan secara utuh. Meski sampai sekarang belum ada kepastian akan dikembalikan, namun dengan kejadian penangkapan calo TKK di Kota Bekasi setidaknya membuat nyali mereka yang berniat jahat menjadi ciut.

“Saya masih menunggu itikad baiknya. Kalo tidak ada perkembangan, ya pasti akan lapor polisi, karena nyari duit segitu juga nggak gampang,” kata korban lain yang mengaku sudah membayar di atas Rp30 juta.

Kasus TKK ini kembali ramai di media sosial. Bukan saja karena jadi ladang ‘bisnis’ oknum-oknum di Pemkot, tapi juga telah menggerogoti APBD. Para tenaga yang tidak kompeten ini hanya jadi beban anggaran.

Pengawasan yang Buruk

Tujuan awal penggalangan TKK besar-besaran dari Pemkot Bekasi menurut Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi kala itu untuk mendekatkan pelayanan masyarakat kelurahan dan kecamatan. Namun, pada pelaksanaannya, mereka tidak bekerja dengan baik. Mereka mendapatkan gaji setara UMR plus sejumlah asuransi, namun akibat pengawasan yang tidak efektif kinerjanya begitu buruk.

Tidak sedikit pegawai di tingkat kelurahan dan kecamatan yang disebut dengan Pamor selepas makan siang terlihat hanya tidur-tiduran dan sebagian lagi asyik menonton drama korea sebagai pengisi waktu sebelum jam pulang kerja.

//BP/01//